"Emansipasi wanita...."
Mari berbicara agak sedikit lebih serius..(hahaha najes, ga cocok lo Sar!)
Yang gw tau dengan segala kapasitas gw sebagai anak SMA (yang secara akademis berada di kasta sudra, atau bahkan pariya), emansipasi wanita itu adalah persamaan hak antara pria dan wanita. Itu teorinya.
Tapi gimana dengan prakteknya?
Wanita sering sekali dinomorduakan, itu sudah bukan hal yang luar biasa lagi.
Wanita dianggap lemah? Stereotipe ini mungkin lebih akrab lagi di telinga kita.
Tapi dari kacamata gw, gw mulai melihat adanya indikasi dimana kaum wanita, makin lama makin radikal dengan tuntutannya. Begitu radikalnya sampai-sampai sering sekali melupakan keseimbangan.
Kita semua pasti tau, dimana ada hak, disitu ada kewajiban. Kewajiban-kewajiban itulah yang sering sekali diabaikan oleh kita, kaum wanita era ini. Seberapa sering kita mengalami kondisi dimana di depan kita ada sebuah barang berat yang harus diangkat. Meja, misalnya. Sebenarnya meja itu nggak begitu berat, tetapi dengan segala ke’spesial’an kita sebagai wanita, kita sering sekali begitu mudah berkata, ”Tolong angkatin dong.. Lo kan cowok.. Gw perempuan..”
Atau ini..
Pernah nonton Playboy Kabel kan? Wah! Disitu banyak banget adegan dimana ketika cowoknya ketawan selingkuh, si cewek langsung datengin tuh cowok dengan marah, terus ”PLAAAAKKK”, nampar seenak jidatnya. Tapi, coba bayangin kalo yang selingkuh itu cewek. Boleh nggak si cowok nampar cewek yang selingkuh itu? Pasti banyak yang jawab nggak boleh. Pertanyaan gw, kenapa? Kenapa cowok boleh ditampar sedangkan cewek nggak? Okay, gw tau cowok lebih kuat dari cewek. Kulit cowok lebih keras dari kulit cewek. Tapi tamparan, buat cewek nggak akan jauh lebih sakit kan daripada tamparan yang dirasain cowok2 kurang ajar tapi malang itu kan??? (coba, direnungkan buat cewek2 yang suka nampar cowok..)
Ada lagi istilah ”ladies first” dimana setiap cowok yang nggak mengindahkan ungkapan ini sering dibalang nggak gentle. Dari mana aturannya kalau cewek harus didahulukan? Apa dasar teorinya?
Banyak dari kita yang mau enaknya aja. Giliran yang nggak enak, dengan gampangnya kita timpalin ke cowok dengan dalih,
”Lo kan cowok, gw cewek..”
Perlu diingat, ketika kita teriak-teriak dan protes karena sering dianggap lemah, sebelumnya kita harus nunjukkin dulu kalau kita nggak lemah. Ketika kita minta untuk tidak di nomorduakan, sebelumnya kita harus nunjukkin, kalau kita bisa jadi nomor satu, bisa lakuin hal-hal yang hebat! Mungkin nggak sama dengan cowok, karena cewek sama cowok itu emang udah dari sononya beda. Banyak juga hal yang bisa cewek lakuin tapi nggak bisa dilakuin sama cowok. Tapi, kita harus pinter-pinter mengukur, hal-hal apa yang bisa kita lakuin, dan apa yang benar-benar nggak bisa kita lakuin. Kalo sekedar ngangkat meja, betulin lampu yang rusak, naik genteng pake tangga, itu mah kita bisa!!! Siapa yang bilang kita nggak bisa?
Besarnya hak diukur dari besarnya kewajiban kan?
Jadi kalau kita terus-terusan kayak gini..
Maksud dari tuntutan kita akan emansipasi,untuk menyetarakan..
Atau sekedar mencari keenakan?
Wednesday, December 5, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



No comments:
Post a Comment